Sabtu, 19 November 2016

Pena biru Ali




Pena biru Ali


Diujung pena, ada sebuah sajak yang tak mampu kutulis
Ini terlalu sulit untukku
Jeluang yang kau berikan telah dibasahi airmata yang tak santun

Namun, perlahan kulupakan peranku sebagai pena birumu
Aku sesaga senja yang memerah kelam
Terdiam, terbius, tergelak mimpi

Hening dan sepi pun tak pernah bosan memelukku

“Ali, aku iri pada fatimah. Mengapa aku bukan menjadi fatimah? Mengapa juga kau tidak menulis bersamaku? Bukankah tinta itu kau yang isi bukan?

-Ari Suprapto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar