Pena biru Ali
Diujung pena, ada sebuah sajak
yang tak mampu kutulis
Ini terlalu sulit untukku
Jeluang yang kau berikan telah
dibasahi airmata yang tak santun
Namun, perlahan kulupakan
peranku sebagai pena birumu
Aku sesaga senja yang memerah
kelam
Terdiam, terbius, tergelak
mimpi
Hening dan sepi pun tak pernah
bosan memelukku
“Ali, aku iri pada fatimah.
Mengapa aku bukan menjadi fatimah? Mengapa juga kau tidak menulis bersamaku?
Bukankah tinta itu kau yang isi bukan?
-Ari Suprapto
-Ari Suprapto
